Langkah PT KAI membeli 30
unit KRL bekas dari Jepang dinilai tidak efisien dari segi pembiayaanya. Hal
tersebut mengingat per unit KRL bekas itu dibanderol Rp1 miliar.
Ketua Dewan Transportasi Jakarta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan industri pembuatan kereta api nasional, Inkai, seharusnya lebih dimanfaatkan lagi tugas dan fungsinya dalam pengadaan kereta api.
"Kenapa beli bekas? Kita kan punya industri pembuatan kereta api. Walaupun mahal, tapi terjamin keadaan barangnya," tutur Tigor saat dihubungi Okezone, Rabu (6/11/2013).
Tigor juga mengungkapkan keraguannya terkait proses pembelian tersebut yang dikabarkan menghabiskan dana sebesar Rp30 miliar.
"Ini kan barang bekas. Barang bekas itu sampah. Negara maju, termasuk Jepang, itu justru membayar negara yang mau mengelolah sampahnya. Ini justru dibeli sama kita. Gimana?" jelas Tigor.
Untuk itu, dia menyatakan, Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) harus segera memeriksa proses pembelian 30 unit KRL bekas Jepang yang dibeli PT KAI itu.
Sebelumnya dikabarkan, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo mengatakan KRL bekas dari Negeri Sakura tersebut terbilang lebih murah dibandingkan KRL buatan PT Inka (Persero). KRL bekas Jepang dibanderol Rp1 miliar per unit, sedangkan KRL Inka dibanderol Rp12 miliar per unit.
Ketua Dewan Transportasi Jakarta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan industri pembuatan kereta api nasional, Inkai, seharusnya lebih dimanfaatkan lagi tugas dan fungsinya dalam pengadaan kereta api.
"Kenapa beli bekas? Kita kan punya industri pembuatan kereta api. Walaupun mahal, tapi terjamin keadaan barangnya," tutur Tigor saat dihubungi Okezone, Rabu (6/11/2013).
Tigor juga mengungkapkan keraguannya terkait proses pembelian tersebut yang dikabarkan menghabiskan dana sebesar Rp30 miliar.
"Ini kan barang bekas. Barang bekas itu sampah. Negara maju, termasuk Jepang, itu justru membayar negara yang mau mengelolah sampahnya. Ini justru dibeli sama kita. Gimana?" jelas Tigor.
Untuk itu, dia menyatakan, Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) harus segera memeriksa proses pembelian 30 unit KRL bekas Jepang yang dibeli PT KAI itu.
Sebelumnya dikabarkan, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Tri Handoyo mengatakan KRL bekas dari Negeri Sakura tersebut terbilang lebih murah dibandingkan KRL buatan PT Inka (Persero). KRL bekas Jepang dibanderol Rp1 miliar per unit, sedangkan KRL Inka dibanderol Rp12 miliar per unit.
Analisa:
Apa yang dilkukan PT KAI itu adalah menghemat biaya yang dikeluarkan
untuk pengadaan gerbong kereta api, namun barang tersebut bekas yang artinya
menjadi limbah di negara pengimpor. Seharusnya PT KAI lebih memaksimalkan
industri dalam negeri seperti PT INKA yang berfungsi menghasilkan
gerbong-gerbong kereta. Jika sudah seperti ini bagaimana industri dalam negeri
bisa maju.
Sumber:
http://economy.okezone.com/read/2013/11/05/320/892184/indonesia-punya-inka-kenapa-beli-krl-bekas-jepang
(8 November 2013, 00.25)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar